Minggu, 28 Oktober 2012

tinjauan


SENI PATUNG DAN ARCA NUSANTARA
Makalah
Untuk memenuhi tugas Tinjauan Seni Rupa Nusantara

Description: E:\FIB_UB_putih.jpg

Dosen Pembimbing:
Fatmawati M.Sn
Mayang Anggrian S.Pd

Disusun Oleh :
Lutfi Ageng M            115110900
              Fauziah                        115110900111008
                                                   Yunasman salam         115110900111009

PROGRAM STUDI SENI RUPA
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2012



BAB I
Pendahuluan
1.1.1        Latar belakang

1.1.2        Rumusan masalah

1.      Apakah yang diaksud seni patung ?
2.      Apa tujuan dari pembuatan patung ?
3.      Bagaimana dampak seni patung bagi masyarakat ?
4.      Apakah yang dimaksud dengan arca?
5.      Apa tujuan dari pembuatan arca ?

1.1.3        Tujuan

1.      Pemahaman tehadap seni patung dan arca nusantara.
2.      Menjelaskan tentang tujuan pembangunan dan manfaat patung dan arca bagi masyarakat terutama di indonesia.














BAB II
PEMBAHASAN
2.1              Pengertian Seni Patung

Seni patung adalah cabang seni rupa yang hasil karyanya berwujud tiga dimensi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia “ patung adalah tiruan bentuk manusia dan binatang yang cara pembuatannya dipahat”. Seni patung disebut juga plasticart atau seni plastic. Biasanya diciptakan dengan cara memahat, modeling (misalnya dengan bahan tanah liat) atau kasting (dengan cetakan). Seiring dengan perkembangan seni patung modern, maka karya-karya seni patung menjadi semakin beragam, baik bentuk maupun bahan dan teknik yang digunakan, sejalan dengan perkembangan teknologi serta penemuan bahan-bahan baru.

2.2              Tujuan Pembuatan Patung
Seni patung pada zaman dahulu di buat untuk kepentingan keagamaan, pada jaman hindu dan budha, patung di buat untuk menghormati dewa atau orang yang di jadikan teladan. Pada perkembangan selanjutnya patung di buat untuk monument/ peringatan suatu peristiwa besar pada suatu bangsa, kelompok atau perorangan.

             Pada jaman sekarang seni patung sering di ciptakan untuk hiasan penciptanya lebih bebas dan bervariasi dan seni patung itu di ciptakan untuk dinik mati nilai keindahan bentuknya.Secara umum berdasarkan pembutanya seni patung ada 6 macam yaitu :
1.  Patung religi, untuk sarana beri badah,bermakna religius.
2. Patung monument, untuk peringatan peristiwa bersejarah atau jasa seorang  pahlawan.
3. Patung arsitektur, patung yang ikut aktif berfungsi dalam kontruksi bangunan.
4. Patung dekorasi, untuk menghias bangunan atau lingkungan taman.
5. Patung seni, patung seni untuk di nikmati keindahan bentuknya.
6. Patung kerajinan, hasil dari para pengrajin.





2.3              Corak dan jenis patung

Pada masa lampau sudah dikenal patung primitive seperti patung asmat di irian jaya dan sulawesi selatan (tanah toraja). Pada masa kerajaan hindu budha di jawa dan bali banyak sekali di temukan hasil karya seni patung terutama di candi hindu dan budha yang bercorak tradisional.Jenis karya patung dapat dibedakan menjadi tiga yaitu :
1.      Patung dada : penampilan karya patung sebatas dada keatas atau bagian kepala.
2.      Patung torsa : torsa disebut juga badan. Patung torsa adalah penampilan karya patung yang hanya menampilkan bagian dada,dari dada, pinggang ,dan panggul.
3.      Patung lengkap : penampilan karya patung lengkap maksutnya terdiri dalam badan, anggota badan, anggota badan, anggota badan bagian atas dan bagian bawah serta kepala.


           




Pengertian arca
Arca adalah patung yang dibuat dengan tujuan utama sebagai media keagamaan, yaitu sarana dalam memuja tuhan atau dewa-dewinya. Arca berbeda dengan patung pada umumnya, yang merupakan hasil seni yang dimaksudkan sebagai sebuah keindahan. Oleh karena itu, membuat sebuah arca tidaklah sesederhana membuat sebuah patung.
berikut ini adalah fungsi arca antara lain:
1.      Menggambarkan dewa-dewa yang di puja, mempersonifikasikan dewa yang abstrak.
2.      Sebagai sarana untuk memusatkan pikiran kearah meditasi yang lebih tinggi.
3.      Sebagai media pemujaan dengan cara mempersembahakan saji-sajian atau menyelenggarakan upacara dihadapan para dewa tersebut.
4.      Sebagai hiasan bangunan candi atau sebagai pelengkap.
Kini di dalam dunia keagamaan Indonesia dikenal dua macam arca, yakni arca agama Hindu dan, arca agama Budha. Agama Islam tidak mengenal arca, karena ajarannya melarang menyembah berhala atau segala figur perwujudan Tuhan.
Tidak seperti patung biasa yang dibuat bebas sesuai keinginan seniman pematungnya, arca dewa-dewi, buddha, bodhisattwa atau makhluk spiritual tertentu memiliki ciri-ciri yang disebut laksana, yaitu atribut atau benda-benda tertentu yang dibawa oleh arca ini yang menjadi cirinya. Laksana sudah disepakati dalam ikonografi seni Hindu dan Buddha.

Arca Hindu

Dalam agama Hindu, arca adalah sama dengan Murti, atau murthi, yang merujuk kepada citra yang menggambarkan Roh atau Jiwa Ketuhanan (murta). Berarti "penubuhan", murti adalah perwujudan aspek ketuhanan (dewa-dewi), biasanya terbuat dari batu, kayu, atau logam, yang berfungsi sebagai sarana dan sasaran konsentrasi kepada Tuhan dalam pemujaan. Menurut kepercayaan Hindu, murti pantas dipuja sebagai fokus pemujaan kepada Tuhan setelah roh suci dipanggil dan bersemayam didalamnya dengan tujuan memberikan persembahan atau sesaji Perwujudan dewa atau dewi, baik sikap tubuh, atribut, atau proporsinya harus mengacu kepada tradisi keagamaan yang bersangkutan

Arca tidak selalu ditemukan di dekat sebuah candi. Candi bisa jadi memiliki sebuah arca, namun sebuah arca belum tentu ada dalam sebuah candi. Ada tiga jenis arca berdasarkan kuantitas pemujanya, yakni:
·         Arca Istadewata, yaitu arca yang dimiliki oleh perseorangan, sehingga dapat dibawa kemana-mana.
·         Arca Kuladewata, yaitu arca yang dimiliki oleh sebuah keluarga, biasanya terdapat di rumah-rumah.
·         Arca Garbadewata, yaitu arca yang dipuja oleh banyak orang, dalam hal ini masyarakat.
Arca Budha
Arca Budha memiliki karakteristik berdasarkan posisi Budha saat melakukan pertapaan. Karakteristik arca Budha :
1.      Pada ujung kepala rambut Sang Budha keriting dan selalu searah jarum jam dan disanggul ushnisa). 
2.      terdapat tonjolan kecil yang disebut (urna).
3.      Pada leher Sang Budha jika diperhatikan terdapat garis-garis sebanyak tiga buah melambangkan kesabaran dan juga sebagai manusia sempurna.
4.      Arca Budha memiliki telinga yang panjang sebagai gambaran kalau Budha itu Maha Mendengar.
Budha digambarkan setengah terpejam karena melambangkan orang yang melakukan yoga yang bertujuan untuk membantu konsentrasi. Setelah memejamkan mata kemudian perhatian diarahkan ke ujung hidung untuk bisa membantu konsentrasi.
Bagian tubuh, seluruh patung Budha tidak ada yang memakai baju kebesaran, hanya memakai jubah. Jubah itu hanya menutup sebagian dadanya. Tidak ada yang penuh menutupi seluruh tubuhnya. Dada bagian kanan dibiarkan terbuka, sedangkan bagian kiri tertutup. Baju hanya berupa kain biasa menandakan sikap Budha yang telah meninggalkan hal-hal duniawi.
Sikap tangan Budha juga melambangkan hal yang berbeda-beda yang disebut Mudra. Mudra ini menjadi petunjuk atau identifikasi tentang apa yang sedang dilakukan Budha. Sikap kaki bersila dan berada di singgasana berbentuk teratai, dinamakan padmasana. Kaki kanan telapak kakinya dibuka ke atas ditumpangkan pada kaki sebelah kiri. Sikap kaki kanan menjadi semacam penopang tubuh untuk relaksasi saat bermeditasi. Bahasa tubuh yang ditunjukkan oleh Budha baik dari sikap tangan dan bahu menunjukkan sikap tubuh seperti orang sedang beryoga. Penempatan arca Budha mengikuti arah penjuru mata angin

Berikut ini adalah laksana atau ciri-ciri atribut dewa-dewa atau tokoh spiritual lainnya:
·         Shiwa: Memiliki mata ketiga di dahinya, pada mahkotanya terdapat bulan sabit dan tengkorak yang disebut Ardhachandrakapala, upawita (tali kasta) ular naga, mengenakan cawat kulit harimau yang ditampilkan dengan ukiran kepala dan ekor harimau di pahanya, bertangan empat yang membawa atribut yaitu trisula, aksamala (tasbih), camara (pengusir lalat), dan kamandalu (kendi). Wahana (kendaraannya) adalah Nandi.
·         Wisnu: Mengenakan mahkota agung jatamakuta, bertangan empat yang membawa atribut yaitu chakra (piringan cakram), cengkha (cangkang kerang bersayap), gada, dan buah atau kuncup bunga padma. Wahananya adalah Garuda.
·         Brahma: Berkepala empat pada tiap penjuru mata angin, mengenakan mahkota agung jatamakuta, bertangan empat yang membawa atribut yaitu kitab, aksamala (tasbih), camara (pengusir lalat), dan buah atau kuncup bunga padma.Wahananya adalah Hamsa (angsa).
·         Agastya: Shiwa dalam perwujudannya sebagai resi brahmana pertapa, digambarkan pria tua berjanggut dan berperut buncit, memegang aksamala, kamandalu, dan trisula.
·         Ganesha: Putra Shiwa yang berkepala gajah ini digambarkan bertangan empat dengan tangan belakang memegang aksamala dan kampak, sementara tangan depannya memegang mangkuk yang dihirup belalainya, serta potongan gadingnya.
·         Durga: Istri Shiwa ini sering diwujudkan sebagai Mahisashuramardhini (pembunuh ashura banteng) dengan posisi menindas raksasa banteng. Ia digambarkan sebagai wanita cantik dalam busana kebesaran bertangan delapan atau duabelas dengan memegang berbagai senjata seperti pedang, perisai, parang busur panah, anak panah, chakra, cengkha, dan tangan yang menjambak rambut Mahisashura dan menarik ekornya. Wahananya adalah Singa.
·         Laksmi: Istri Wishnu ini adalah dewi kemakmuran dan kebahagiaan. Digambarkan sebagai wanita cantik dalam busana kebesaran bertangan dua atau empat dengan memegang padma (teratai merah).
·         Saraswati: istri Brahma ini adalah dewi pengetahuan dan kesenian. Digambarkan sebagai wanita cantik dalam busana kebesaran bertangan empat yang memegang alat musik sitar, aksamala, dan kitab lontar. Wahananya adalah hamsa (angsa).
·         Wairocana: Buddha penguasa pusat zenith digambarkan sebagai Buddharupa dalam posisi bersila atau duduk dengan mudra (sikap tangan) dharmachakra mudra atau witarka mudra.
·         Awalokiteswara: Mengenakan mahkota agung jatamakuta yang ditengahnya terukir Buddha Amitabha, bertangan dua atau empat yang membawa atribut buah atau kuncup bunga padma.
·         Maitreya: Mengenakan mahkota agung jatamakuta yang ditengahnya terukir stupa.
·         Prajnaparamita: Dewi kebijaksanaan buddhis ini digambarkan sebagai wanita cantik berbusana kebesaran tengah bersila dalam posisi teratai dengan mudra dharmachakra (memutar roda dharma). Lengan kirinya menggamit batang bunga teratai yang diatasnya terdapat naskah lontar kitab Prajnaparamita sutra











BAB III
PENUTUP
3.1       KESIMPULAN
3.2       SARAN



















DAFTAR PUSTAKA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar