SENI PATUNG DAN
ARCA NUSANTARA
Makalah
Untuk memenuhi
tugas Tinjauan Seni Rupa Nusantara

Dosen
Pembimbing:
Fatmawati M.Sn
Mayang Anggrian
S.Pd
Disusun Oleh :
Lutfi Ageng M 115110900
Fauziah 115110900111008
Yunasman salam
115110900111009
PROGRAM STUDI
SENI RUPA
FAKULTAS ILMU
BUDAYA
UNIVERSITAS
BRAWIJAYA
2012
BAB I
Pendahuluan
1.1.1
Latar belakang
1.1.2
Rumusan masalah
1.
Apakah yang diaksud seni patung ?
2.
Apa tujuan dari pembuatan patung ?
3.
Bagaimana dampak seni patung bagi
masyarakat ?
4.
Apakah yang dimaksud dengan arca?
5.
Apa tujuan dari pembuatan arca ?
1.1.3
Tujuan
1. Pemahaman
tehadap seni patung dan arca nusantara.
2. Menjelaskan
tentang tujuan pembangunan dan manfaat patung dan arca bagi masyarakat terutama
di indonesia.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Pengertian
Seni Patung
Seni patung adalah cabang seni rupa yang hasil karyanya berwujud tiga dimensi. Menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia “ patung adalah tiruan bentuk manusia dan binatang yang cara
pembuatannya dipahat”. Seni patung disebut juga plasticart atau seni plastic. Biasanya
diciptakan dengan cara memahat, modeling (misalnya dengan bahan tanah liat)
atau kasting (dengan cetakan). Seiring dengan perkembangan seni patung modern,
maka karya-karya seni patung menjadi semakin beragam, baik bentuk maupun bahan
dan teknik yang digunakan, sejalan dengan perkembangan teknologi serta penemuan
bahan-bahan baru.
2.2
Tujuan
Pembuatan Patung
Seni patung pada zaman dahulu di buat untuk kepentingan
keagamaan, pada jaman hindu dan budha, patung di buat untuk menghormati dewa
atau orang yang di jadikan teladan. Pada perkembangan selanjutnya patung di
buat untuk monument/ peringatan suatu peristiwa besar pada suatu bangsa,
kelompok atau perorangan.
Pada jaman sekarang seni patung sering di ciptakan untuk hiasan penciptanya lebih bebas dan bervariasi dan seni patung itu di ciptakan untuk dinik mati nilai keindahan bentuknya.Secara umum berdasarkan pembutanya seni patung ada 6 macam yaitu :
1. Patung
religi, untuk sarana beri badah,bermakna religius.
2.
Patung monument, untuk peringatan peristiwa bersejarah atau jasa seorang pahlawan.
3. Patung arsitektur, patung yang ikut aktif berfungsi dalam
kontruksi bangunan.
4. Patung dekorasi, untuk
menghias bangunan atau lingkungan taman.
5. Patung seni, patung
seni untuk di nikmati keindahan bentuknya.
6. Patung kerajinan, hasil dari para pengrajin.
2.3
Corak dan jenis patung
Pada masa lampau sudah dikenal patung primitive seperti
patung asmat di irian jaya dan sulawesi selatan (tanah toraja). Pada masa
kerajaan hindu budha di jawa dan bali banyak sekali di temukan hasil karya seni
patung terutama di candi hindu dan budha yang bercorak tradisional.Jenis karya
patung dapat dibedakan menjadi tiga yaitu :
1.
Patung dada : penampilan karya
patung sebatas dada keatas atau bagian kepala.
2.
Patung torsa : torsa disebut juga
badan. Patung torsa adalah penampilan karya patung yang hanya menampilkan
bagian dada,dari dada, pinggang ,dan panggul.
3.
Patung lengkap : penampilan karya
patung lengkap maksutnya terdiri dalam badan, anggota badan, anggota badan,
anggota badan bagian atas dan bagian bawah serta kepala.
Pengertian
arca
Arca
adalah patung
yang dibuat dengan tujuan utama sebagai media keagamaan, yaitu sarana dalam
memuja tuhan
atau dewa-dewinya.
Arca berbeda dengan patung pada umumnya, yang merupakan hasil seni
yang dimaksudkan sebagai sebuah keindahan. Oleh karena itu, membuat sebuah arca
tidaklah sesederhana membuat sebuah patung.
berikut ini adalah fungsi arca antara lain:
berikut ini adalah fungsi arca antara lain:
1. Menggambarkan
dewa-dewa yang di puja, mempersonifikasikan dewa yang abstrak.
2. Sebagai
sarana untuk memusatkan pikiran kearah meditasi yang lebih tinggi.
3. Sebagai
media pemujaan dengan cara mempersembahakan saji-sajian atau menyelenggarakan
upacara dihadapan para dewa tersebut.
4. Sebagai
hiasan bangunan candi atau sebagai pelengkap.
Kini di dalam dunia keagamaan Indonesia
dikenal dua macam arca, yakni arca agama Hindu dan, arca agama
Budha. Agama Islam tidak mengenal
arca, karena ajarannya melarang menyembah berhala atau
segala figur perwujudan Tuhan.
Tidak seperti patung biasa yang dibuat bebas sesuai keinginan seniman pematungnya, arca dewa-dewi, buddha, bodhisattwa atau makhluk spiritual tertentu memiliki ciri-ciri yang disebut laksana, yaitu atribut atau benda-benda tertentu yang dibawa oleh arca ini yang menjadi cirinya. Laksana sudah disepakati dalam ikonografi seni Hindu dan Buddha.
Tidak seperti patung biasa yang dibuat bebas sesuai keinginan seniman pematungnya, arca dewa-dewi, buddha, bodhisattwa atau makhluk spiritual tertentu memiliki ciri-ciri yang disebut laksana, yaitu atribut atau benda-benda tertentu yang dibawa oleh arca ini yang menjadi cirinya. Laksana sudah disepakati dalam ikonografi seni Hindu dan Buddha.
Arca Hindu
Dalam agama Hindu, arca adalah sama dengan Murti, atau murthi, yang merujuk kepada citra yang menggambarkan Roh atau Jiwa Ketuhanan (murta). Berarti "penubuhan", murti adalah perwujudan aspek ketuhanan (dewa-dewi), biasanya terbuat dari batu, kayu, atau logam, yang berfungsi sebagai sarana dan sasaran konsentrasi kepada Tuhan dalam pemujaan. Menurut kepercayaan Hindu, murti pantas dipuja sebagai fokus pemujaan kepada Tuhan setelah roh suci dipanggil dan bersemayam didalamnya dengan tujuan memberikan persembahan atau sesaji Perwujudan dewa atau dewi, baik sikap tubuh, atribut, atau proporsinya harus mengacu kepada tradisi keagamaan yang bersangkutan
Arca tidak selalu ditemukan di dekat sebuah
candi. Candi bisa
jadi memiliki sebuah arca, namun sebuah arca belum tentu ada dalam sebuah
candi. Ada tiga jenis arca berdasarkan kuantitas pemujanya, yakni:
·
Arca Istadewata, yaitu arca yang dimiliki oleh
perseorangan, sehingga dapat dibawa kemana-mana.
·
Arca Kuladewata, yaitu arca yang dimiliki oleh sebuah
keluarga, biasanya terdapat di rumah-rumah.
·
Arca Garbadewata, yaitu arca yang dipuja oleh banyak
orang, dalam hal ini masyarakat.
Arca Budha
Arca Budha memiliki karakteristik berdasarkan
posisi Budha saat melakukan pertapaan. Karakteristik arca Budha :
1. Pada
ujung kepala rambut Sang Budha keriting dan selalu searah jarum jam dan
disanggul ushnisa).
2.
terdapat tonjolan kecil yang disebut (urna).
3.
Pada leher Sang Budha jika diperhatikan terdapat
garis-garis sebanyak tiga buah melambangkan kesabaran dan juga sebagai manusia
sempurna.
4.
Arca Budha memiliki telinga yang panjang sebagai
gambaran kalau Budha itu Maha Mendengar.
Budha
digambarkan setengah terpejam karena melambangkan orang yang melakukan
yoga yang bertujuan untuk membantu konsentrasi. Setelah memejamkan mata
kemudian perhatian diarahkan ke ujung hidung untuk bisa membantu konsentrasi.
Bagian tubuh, seluruh patung Budha tidak ada yang memakai baju kebesaran, hanya memakai jubah. Jubah itu hanya menutup sebagian dadanya. Tidak ada yang penuh menutupi seluruh tubuhnya. Dada bagian kanan dibiarkan terbuka, sedangkan bagian kiri tertutup. Baju hanya berupa kain biasa menandakan sikap Budha yang telah meninggalkan hal-hal duniawi.
Bagian tubuh, seluruh patung Budha tidak ada yang memakai baju kebesaran, hanya memakai jubah. Jubah itu hanya menutup sebagian dadanya. Tidak ada yang penuh menutupi seluruh tubuhnya. Dada bagian kanan dibiarkan terbuka, sedangkan bagian kiri tertutup. Baju hanya berupa kain biasa menandakan sikap Budha yang telah meninggalkan hal-hal duniawi.
Sikap tangan Budha juga melambangkan hal yang
berbeda-beda yang disebut Mudra. Mudra ini menjadi petunjuk atau identifikasi tentang
apa yang sedang dilakukan Budha. Sikap
kaki bersila dan berada di singgasana berbentuk teratai, dinamakan padmasana. Kaki kanan
telapak kakinya dibuka ke atas ditumpangkan pada kaki sebelah kiri. Sikap kaki
kanan menjadi semacam penopang tubuh untuk relaksasi saat bermeditasi. Bahasa
tubuh yang ditunjukkan oleh Budha baik dari sikap tangan dan bahu menunjukkan
sikap tubuh seperti orang sedang beryoga. Penempatan arca Budha mengikuti arah
penjuru mata angin
Berikut ini adalah laksana atau
ciri-ciri atribut dewa-dewa atau tokoh spiritual lainnya:
·
Shiwa: Memiliki mata ketiga di dahinya,
pada mahkotanya terdapat bulan sabit dan tengkorak yang disebut Ardhachandrakapala,
upawita (tali kasta) ular naga, mengenakan cawat kulit harimau yang
ditampilkan dengan ukiran kepala dan ekor harimau di pahanya, bertangan empat
yang membawa atribut yaitu trisula, aksamala (tasbih), camara (pengusir lalat),
dan kamandalu (kendi). Wahana (kendaraannya) adalah Nandi.
·
Wisnu: Mengenakan mahkota agung jatamakuta,
bertangan empat yang membawa atribut yaitu chakra (piringan cakram), cengkha (cangkang kerang
bersayap), gada, dan buah atau kuncup bunga padma. Wahananya
adalah Garuda.
·
Brahma: Berkepala empat pada tiap penjuru
mata angin, mengenakan mahkota agung jatamakuta, bertangan empat yang
membawa atribut yaitu kitab, aksamala (tasbih), camara (pengusir
lalat), dan buah atau kuncup bunga padma.Wahananya
adalah Hamsa (angsa).
·
Agastya: Shiwa dalam perwujudannya sebagai
resi brahmana pertapa, digambarkan pria tua berjanggut dan berperut buncit,
memegang aksamala, kamandalu, dan trisula.
·
Ganesha: Putra Shiwa yang berkepala gajah
ini digambarkan bertangan empat dengan tangan belakang memegang aksamala
dan kampak, sementara tangan depannya memegang mangkuk yang dihirup belalainya,
serta potongan gadingnya.
·
Durga: Istri Shiwa ini sering diwujudkan
sebagai Mahisashuramardhini (pembunuh ashura banteng) dengan posisi
menindas raksasa banteng. Ia digambarkan sebagai wanita cantik dalam busana
kebesaran bertangan delapan atau duabelas dengan memegang berbagai senjata
seperti pedang, perisai, parang busur panah, anak panah, chakra, cengkha,
dan tangan yang menjambak rambut Mahisashura dan menarik ekornya. Wahananya
adalah Singa.
·
Laksmi: Istri Wishnu ini adalah dewi
kemakmuran dan kebahagiaan. Digambarkan sebagai wanita cantik dalam busana
kebesaran bertangan dua atau empat dengan memegang padma (teratai
merah).
·
Saraswati: istri Brahma ini adalah dewi
pengetahuan dan kesenian. Digambarkan sebagai wanita cantik dalam busana
kebesaran bertangan empat yang memegang alat musik sitar, aksamala,
dan kitab lontar. Wahananya adalah hamsa (angsa).
·
Wairocana: Buddha penguasa pusat zenith
digambarkan sebagai Buddharupa dalam posisi bersila atau duduk dengan mudra (sikap
tangan) dharmachakra mudra atau witarka mudra.
·
Awalokiteswara: Mengenakan mahkota agung jatamakuta yang
ditengahnya terukir Buddha Amitabha, bertangan dua atau empat yang membawa
atribut buah atau kuncup bunga padma.
·
Prajnaparamita: Dewi kebijaksanaan buddhis ini digambarkan sebagai wanita
cantik berbusana kebesaran tengah bersila dalam posisi teratai dengan mudra
dharmachakra (memutar roda dharma). Lengan kirinya menggamit batang bunga
teratai yang diatasnya terdapat naskah lontar kitab Prajnaparamita sutra
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
3.2 SARAN
DAFTAR PUSTAKA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar