ANTROPOLOGI
SENI
MAHASISWA
AKTIF VS MAHASISWA APATIS
Oleh:
Kelompok
I
Ririn Krisnawati (115110913111001)
Yunasman
Salam (115110900111009)
Bakti
Setya W. (115110900111006)
Rosieda
Fatmala ( )
PROGRAM STUDI SENI RUPA
FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS
BRAWIJAYA
MALANG
2012
I.
LATAR BELAKANG
Mahasiswa
atau Mahasiswi adalah panggilan untuk orang yang sedang menjalani pendidikan tinggi di sebuah universitas atau perguruan tinggi.Mahasiswa pada
saat ini merupakan harapan terbesar bagi masyarakat sebagai penyambung lidah
rakyat terutama sebagai perubahan di masyarakat (Agen social of cahange). Sebagai salah
satu potensi, mahasiswa adalah bagian dari kaum muda dalam tatanan masyarakat
yang mau tidak mau pasti terlibat langsung dalam setiap fenomena sosial, mereka
harus mampu mengimplementasikan kemampuan keilmuannya dalam akselerasi
perubahan masyarakat ke arah peradaban yang lebih baik.
Ada penggolongan mahasiswa apabila
di lihat dari kesehariannya,yaitu adanya mahasiswa aktif dan adanya mahasiswa
apatis. Mahsiswa aktif adalah mahasiswa yang tidak hanya berperan aktif
(berkontribusi) dalam lingkungan sosial atau organisasi saja,akan tetapi
mahasiswa aktif juga mahasiswa yang rajin dan selalu aktif dalam mata
perkuliahan. Sedangkan mahasiswa apatis adalah mahasiswa yang tidak
berkontribusi pada suatu organisasi dan juga bersikap pasif dalam mata
pekuliahan.
II.
RUMUSAN
MASALAH
a. Apa
definisi dari mahasiswa secara umum,mahasiswa aktif dan mahasiswa apatis?
b. Bagaimana perilaku mahasiswa aktif dan apatis
dalam kehidupan sehari-harinya?
c. Apa
dampak dari setiap tindakan baik oleh mahasiswa aktif atau mahasiswa apatis?
III.
ISI
A.
Definisi
Mahasiswa atau Mahasiswi adalah panggilan untuk orang
yang sedang menjalani pendidikan
tinggi
di sebuah universitas atau perguruan
tinggi. Mahasiswa pada saat ini merupakan
harapan terbesar bagi masyarakat sebagai penyambung lidah rakyat terutama
sebagai perubahan di masyarakat (Agen social of cahange). Sebagai salah
satu potensi, mahasiswa adalah bagian dari kaum muda dalam tatanan masyarakat
yang mau tidak mau pasti terlibat langsung dalam setiap fenomena sosial, mereka
harus mampu mengimplementasikan kemampuan keilmuannya dalam akselerasi perubahan
masyarakat ke arah peradaban yang lebih baik.
Selama ini
sudah menjadi jargon dan pilar utama terjaminnya sebuah tatanan kenegaraan yang
demokratis. Romantisme politis antara mahasiswa dengan rakyat terlihat sebagai
fungsinya sebagai social control termasuk terhadap
kebijakan-kebijakan yang menindas rakyat.
Mahasiswa yang pada akhirnya akan berkecimpung dalam
kehidupan masyarakat perlu memahami lebih jauh tentang tatanan kehidupan itu
sendiri, untuk mengerti hal tersebut maka organisasi merupakan media
pembelajaran yang tepat. Setiap mahasiswa mempunyai ruang organisasi yang berbeda, mulai dari
internal maupun eksternal kampus. Namun sejauh ini mari kita melihat secara
jeli terhadap tatanan kelembagaan organisasi internal kampus yang lebih
sfesifiknya adalah di tingkat fakultas seperti Himpunan Mahasiswa Jurusan
(HMJ), Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas (BEMAF), Majelis Perwakilan Mahasiswa
Fakultas (MPMF) dan lembaga-lembaga organisasi lainnya yang ada dilingkungan
fakultas. Kesemuanya ini mempunyai fungsi dan tujuan yang mengarah kepada
pengkaderisasi terhadap mahasiswa, agar terciptanya mahasiswa yang punya
potensi, wawasan dan pembekalan pengalaman yang kelak akan mengabdi di
masyarakat, demikian juga dengan eksternal kampus.
Ada penggolongan mahasiswa apabila di lihat dari
kesehariannya,yaitu adanya mahasiswa aktif dan adanya mahasiswa apatis. Mahasiswa
aktif adalah mahasiswa yang tidak hanya berperan aktif (berkontribusi) dalam
lingkungan sosial atau organisasi saja,akan tetapi mahasiswa aktif juga
mahasiswa yang rajin dan selalu aktif dalam mata perkuliahan. Mahasiswa yang
aktif biasanya selalu berusaha memberikan yang terbaik yang dia bisa.
Misalnya,dalam diskusi kelas dia akan mengutarakan pendapatnya atau mengajukan
pertanyaan-pertanyaan. Mahasiswa yang aktif juga berusaha untuk memanfaatkan
waktu sebaik mungkin agar semuanya berjalan lancar dan tidak rugi (bisa membagi
kapan saat untuk belajar dan kapan saat untuk berorganisasi). Faktor yang
mendorong seseorang menjadi aktif adalah lingkungan,motifasi diri,kesadaran dan
juga karakter dari orang tersebut.
Apatis berasal dari kata a-pathos yang berarti tanpa
perasaan. Maka, orang yang apatis adalah orang yang tidak peduli urusan orang
lain, tidak peduli lingkungan dan apa yang terjadi disekitarnya. Sikap apatis,
hopeless, putus asa, putus harapan, adalah bagian yang wajar dari diri kita
sebagai manusia, tidak ada yang salah, normal saja. Tetapi apabila terus
menerus memelihara sikap tersebut adalah salah besar. Sedangkan mahasiswa apatis adalah mahasiswa
yang tidak berkontribusi pada suatu organisasi dan juga bersikap pasif dalam
mata pekuliahan. Mereka cenderung bertindak sesuai dengan apa yang mereka
inginkan.
Banyak alasan mengapa mahasiswa menjadi apatis,
pertama hedonisme (gaya hidup berhura-hura yang hanya mementingkan kesenangan
dan kenikmatan duniawi) secara perlahan merasuki kaum muda-mudi, tak terkecuali
mahasiswa. Mahasiswa kini tak bisa lagi secara universal disebut kaum
intelektual atau pembawa perubahan. Hedonisme telah merubah banyak diantara
mereka dari kutu buku menjadi pencinta club malam, narkoba atau miras.
Pergeseran perilaku ini tak bisa dilepaskan dari pengaruh arus globalisasi
sehingga cenderung sangat sulit dibendung.
B. Perilaku
Adapun beberapa contoh
perilaku mahasiswa aktif dan mahasiswa apatis dari pengamatan lapangan yang
kami lakukan adalah sebagai berikut:
1.Apabila di lihat dari
segi ketepatan waktu. Mahasiswa aktif akan datang kurang dari jam yang telah
ditentukan. Misalnya dalam masuk kelas,bisa dipastikan pada pukul 06.45 dia
sudah ada di depan kelas. Berbeda dengan mahasiswa apatis,mereka lebih sering
terlambat masuk kelas.
2. Dilihat dari segi
style mahasiswa apatis lebih cendrung terlihat berantakan dan
seadanya,sedangkan mahasiswa aktif terlihat rapih dan teratur.contohnya
mahasiswa aktif jarang menggunakan baju
kaos ,mereka lebih cendrung menggunakan kemeja. Sedangkan mahasiswa apatis menggunakan
kemeja hanya untuk perkuliahan, setelah perkuliahan selesai kemeja dilepas
kemudian menggunakan kaos.
3. Dilihat dari segi
kelengkapan.Mahasiswa aktif selalu membawa hal-hal yang menurutnya sangat
perlu,misalnya laptop,kamus,pensil lebih dari 1,bolpoin lebih dari
1,penghapus,dan buku untuk mencatat.Sedangkan mahasiswa apatis cenderung
membawa alat2 yang menurutnya tidak berat,mereka hanya membawa 1 buku dan 1
bolpoin saja.
4.Dilihat dari segi
keaktifan Organisasi,Mahasiswa aktif selalu terlihat sibuk,seusai
pelajaran,mereka selalu berkumpul dalam organisasi,dan mereka selalu aktif
dalam berorganisasi seperti memecahkan persoalan dalam organisasi,membuat
evaluasi tentang organisasi,dan menjalankan tugas-tugas dalam
organisasi.Sedangkan mahasiswa apatis selalu terlihat santai,seusai pelajaran
mereka selalu berkumpul untuk membicarakan hal-hal yang tidak perlu. Terkadang
selesei kuliah langsung pulang.
C. Dampak dari
Mahasiswa Aktif dan Apatis
Dampak yang terjadi
apabila mahasiswa tersebut merupakan mahasiswa yang aktif adalah :
1. Hidupnya
lebih teratur dan dapat mencapai target yang diharapkan.
2. Memperoleh
pengalaman dari organisasi atau diskusi yang pernah ia ikuti.
3. Lebih
cakap dalam berkomunikasi di depan public.
4. Lebih
dapat menggunakan waktu sebaik mungkin.
5. Perannya
sebagai Agent of change dapat terlaksana.
6. Banyak
teman.
Sedangkan dampak dari
sikap mahasiswa yang apatis adalah sbb:
1. Hidupnya
santai tetapi tidak terarah.
2. Cara
berfikirnya random.
3. Lebih
bersifat individualis yang sangat tidak baik jika diterapkan di masyarakat.
4. Banyak
pengeluaran karena sering hura-hura.
5. Kurang
bisa berkomunikasi di depan public karena tidak berorganisasi.
6. Diremehkan
oleh masyarakat di lingkungan sekitarnya.
7. Sedikit
teman yang bisa membantu dalam meraih cita-cita.
PENUTUP
Saran
1.Merubah Paradigma Berpikir
Mahasiswa
yang aktif ber-organisasi secara konsisten semata-mata memiliki pemahaman bahwa
organisasi kemahasiswaan merupakan sebuah sarana yang efektif dalam
meng-kader dirinya sendiri untuk ke depan. Sebagian di antaranya masih
mempunyai keyakinan pandangan bahwa kampus merupakan tempat menimba ilmu yang
tidak terbatas hanya kepada pelajaran semata.
2. menghindari
gaya hidup berhura-hura.
Cara hidup ini hanya mementingkan kesenangan dan
kenikmatan duniawi yang secara perlahan merasuki kaum muda-mudi, tak terkecuali
mahasiswa. Mahasiswa kini tak bisa lagi secara universal disebut kaum
intelektual atau pembawa perubahan. Hedonisme telah merubah banyak diantara
mereka dari kutu buku menjadi pencinta club malam, narkoba atau miras.
Pergeseran perilaku ini tak bisa dilepaskan dari pengaruh arus globalisasi
sehingga cenderung sangat sulit dibendung.
Kesimpulan
Ada perbedaan mencolok
antara mahasiswa aktif dan apatis ,dimana
dari perbedaan yang telah disampaikan di atas dapat kita tarik
kesimpulan bahwa mahasiswa aktif lebih banyak mendapatkan manfaat sebagai
mahasiswa terlebih sebagai agen of change, yang pada akhirnya harus terjun
langsung di masyarakat.








