Minggu, 29 April 2012

antropologi seni.


ANTROPOLOGI SENI
MAHASISWA AKTIF VS MAHASISWA APATIS



Oleh:
Kelompok I
                                    Ririn Krisnawati          (115110913111001)
Yunasman Salam        (115110900111009)
Bakti Setya W.            (115110900111006)
Rosieda Fatmala         (                               )


PROGRAM STUDI SENI RUPA
FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2012
I.                   LATAR BELAKANG

Mahasiswa atau Mahasiswi adalah panggilan untuk orang yang sedang menjalani pendidikan tinggi di sebuah universitas atau perguruan tinggi.Mahasiswa pada saat ini merupakan harapan terbesar bagi masyarakat sebagai penyambung lidah rakyat terutama sebagai perubahan di masyarakat (Agen social of cahange). Sebagai salah satu potensi, mahasiswa adalah bagian dari kaum muda dalam tatanan masyarakat yang mau tidak mau pasti terlibat langsung dalam setiap fenomena sosial, mereka harus mampu mengimplementasikan kemampuan keilmuannya dalam akselerasi perubahan masyarakat ke arah peradaban yang lebih baik.

Ada penggolongan mahasiswa apabila di lihat dari kesehariannya,yaitu adanya mahasiswa aktif dan adanya mahasiswa apatis. Mahsiswa aktif adalah mahasiswa yang tidak hanya berperan aktif (berkontribusi) dalam lingkungan sosial atau organisasi saja,akan tetapi mahasiswa aktif juga mahasiswa yang rajin dan selalu aktif dalam mata perkuliahan. Sedangkan mahasiswa apatis adalah mahasiswa yang tidak berkontribusi pada suatu organisasi dan juga bersikap pasif dalam mata pekuliahan.

II.                RUMUSAN MASALAH

a.       Apa definisi dari mahasiswa secara umum,mahasiswa aktif dan mahasiswa apatis?
b.       Bagaimana perilaku mahasiswa aktif dan apatis dalam kehidupan sehari-harinya?
c.       Apa dampak dari setiap tindakan baik oleh mahasiswa aktif atau mahasiswa apatis?









III.             ISI

A. Definisi
Mahasiswa atau Mahasiswi adalah panggilan untuk orang yang sedang menjalani pendidikan tinggi di sebuah universitas atau perguruan tinggi. Mahasiswa pada saat ini merupakan harapan terbesar bagi masyarakat sebagai penyambung lidah rakyat terutama sebagai perubahan di masyarakat (Agen social of cahange). Sebagai salah satu potensi, mahasiswa adalah bagian dari kaum muda dalam tatanan masyarakat yang mau tidak mau pasti terlibat langsung dalam setiap fenomena sosial, mereka harus mampu mengimplementasikan kemampuan keilmuannya dalam akselerasi perubahan masyarakat ke arah peradaban yang lebih baik.
Selama ini sudah menjadi jargon dan pilar utama terjaminnya sebuah tatanan kenegaraan yang demokratis. Romantisme politis antara mahasiswa dengan rakyat terlihat sebagai fungsinya sebagai social control termasuk terhadap kebijakan-kebijakan yang menindas rakyat.

Mahasiswa yang pada akhirnya akan berkecimpung dalam kehidupan masyarakat perlu memahami lebih jauh tentang tatanan kehidupan itu sendiri, untuk mengerti hal tersebut maka organisasi merupakan media pembelajaran yang tepat. Setiap mahasiswa mempunyai ruang organisasi yang berbeda, mulai dari internal maupun eksternal kampus. Namun sejauh ini mari kita melihat secara jeli terhadap tatanan kelembagaan organisasi internal kampus yang lebih sfesifiknya adalah di tingkat fakultas seperti Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ), Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas (BEMAF), Majelis Perwakilan Mahasiswa Fakultas (MPMF) dan lembaga-lembaga organisasi lainnya yang ada dilingkungan fakultas. Kesemuanya ini mempunyai fungsi dan tujuan yang mengarah kepada pengkaderisasi terhadap mahasiswa, agar terciptanya mahasiswa yang punya potensi, wawasan dan pembekalan pengalaman yang kelak akan mengabdi di masyarakat, demikian juga dengan eksternal kampus.
Ada penggolongan mahasiswa apabila di lihat dari kesehariannya,yaitu adanya mahasiswa aktif dan adanya mahasiswa apatis. Mahasiswa aktif adalah mahasiswa yang tidak hanya berperan aktif (berkontribusi) dalam lingkungan sosial atau organisasi saja,akan tetapi mahasiswa aktif juga mahasiswa yang rajin dan selalu aktif dalam mata perkuliahan. Mahasiswa yang aktif biasanya selalu berusaha memberikan yang terbaik yang dia bisa. Misalnya,dalam diskusi kelas dia akan mengutarakan pendapatnya atau mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Mahasiswa yang aktif juga berusaha untuk memanfaatkan waktu sebaik mungkin agar semuanya berjalan lancar dan tidak rugi (bisa membagi kapan saat untuk belajar dan kapan saat untuk berorganisasi). Faktor yang mendorong seseorang menjadi aktif adalah lingkungan,motifasi diri,kesadaran dan juga karakter dari orang tersebut.
Apatis berasal dari kata a-pathos yang berarti tanpa perasaan. Maka, orang yang apatis adalah orang yang tidak peduli urusan orang lain, tidak peduli lingkungan dan apa yang terjadi disekitarnya. Sikap apatis, hopeless, putus asa, putus harapan, adalah bagian yang wajar dari diri kita sebagai manusia, tidak ada yang salah, normal saja. Tetapi apabila terus menerus memelihara sikap tersebut adalah salah besar.  Sedangkan mahasiswa apatis adalah mahasiswa yang tidak berkontribusi pada suatu organisasi dan juga bersikap pasif dalam mata pekuliahan. Mereka cenderung bertindak sesuai dengan apa yang mereka inginkan.
Banyak alasan mengapa mahasiswa menjadi apatis, pertama hedonisme (gaya hidup berhura-hura yang hanya mementingkan kesenangan dan kenikmatan duniawi) secara perlahan merasuki kaum muda-mudi, tak terkecuali mahasiswa. Mahasiswa kini tak bisa lagi secara universal disebut kaum intelektual atau pembawa perubahan. Hedonisme telah merubah banyak diantara mereka dari kutu buku menjadi pencinta club malam, narkoba atau miras. Pergeseran perilaku ini tak bisa dilepaskan dari pengaruh arus globalisasi sehingga cenderung sangat sulit dibendung.

B. Perilaku
Adapun beberapa contoh perilaku mahasiswa aktif dan mahasiswa apatis dari pengamatan lapangan yang kami lakukan adalah sebagai berikut:
1.Apabila di lihat dari segi ketepatan waktu. Mahasiswa aktif akan datang kurang dari jam yang telah ditentukan. Misalnya dalam masuk kelas,bisa dipastikan pada pukul 06.45 dia sudah ada di depan kelas. Berbeda dengan mahasiswa apatis,mereka lebih sering terlambat masuk kelas.

2. Dilihat dari segi style mahasiswa apatis lebih cendrung terlihat berantakan dan seadanya,sedangkan mahasiswa aktif terlihat rapih dan teratur.contohnya mahasiswa aktif  jarang menggunakan baju kaos ,mereka lebih cendrung menggunakan kemeja. Sedangkan mahasiswa apatis menggunakan kemeja hanya untuk perkuliahan, setelah perkuliahan selesai kemeja dilepas kemudian menggunakan kaos.

3. Dilihat dari segi kelengkapan.Mahasiswa aktif selalu membawa hal-hal yang menurutnya sangat perlu,misalnya laptop,kamus,pensil lebih dari 1,bolpoin lebih dari 1,penghapus,dan buku untuk mencatat.Sedangkan mahasiswa apatis cenderung membawa alat2 yang menurutnya tidak berat,mereka hanya membawa 1 buku dan 1 bolpoin saja.
4.Dilihat dari segi keaktifan Organisasi,Mahasiswa aktif selalu terlihat sibuk,seusai pelajaran,mereka selalu berkumpul dalam organisasi,dan mereka selalu aktif dalam berorganisasi seperti memecahkan persoalan dalam organisasi,membuat evaluasi tentang organisasi,dan menjalankan tugas-tugas dalam organisasi.Sedangkan mahasiswa apatis selalu terlihat santai,seusai pelajaran mereka selalu berkumpul untuk membicarakan hal-hal yang tidak perlu. Terkadang selesei kuliah langsung pulang.


C. Dampak dari Mahasiswa Aktif dan Apatis
Dampak yang terjadi apabila mahasiswa tersebut merupakan mahasiswa yang aktif adalah :
1.      Hidupnya lebih teratur dan dapat mencapai target yang diharapkan.
2.      Memperoleh pengalaman dari organisasi atau diskusi yang pernah ia ikuti.
3.      Lebih cakap dalam berkomunikasi di depan public.
4.      Lebih dapat menggunakan waktu sebaik mungkin.
5.      Perannya sebagai Agent of change dapat terlaksana.
6.      Banyak teman.
Sedangkan dampak dari sikap mahasiswa yang apatis adalah sbb:
1.      Hidupnya santai tetapi tidak terarah.
2.      Cara berfikirnya random.
3.      Lebih bersifat individualis yang sangat tidak baik jika diterapkan di masyarakat.
4.      Banyak pengeluaran karena sering hura-hura.
5.      Kurang bisa berkomunikasi di depan public karena tidak berorganisasi.
6.      Diremehkan oleh masyarakat di lingkungan sekitarnya.
7.      Sedikit teman yang bisa membantu dalam meraih cita-cita.









PENUTUP

Saran
1.Merubah Paradigma Berpikir

Mahasiswa yang aktif ber-organisasi secara konsisten semata-mata memiliki pemahaman bahwa organisasi kemahasiswaan merupakan sebuah sarana yang efektif  dalam meng-kader dirinya sendiri untuk ke depan. Sebagian di antaranya masih mempunyai keyakinan pandangan bahwa kampus merupakan tempat menimba ilmu yang tidak terbatas hanya kepada pelajaran semata.

2. menghindari gaya hidup berhura-hura.
Cara hidup ini hanya mementingkan kesenangan dan kenikmatan duniawi yang secara perlahan merasuki kaum muda-mudi, tak terkecuali mahasiswa. Mahasiswa kini tak bisa lagi secara universal disebut kaum intelektual atau pembawa perubahan. Hedonisme telah merubah banyak diantara mereka dari kutu buku menjadi pencinta club malam, narkoba atau miras. Pergeseran perilaku ini tak bisa dilepaskan dari pengaruh arus globalisasi sehingga cenderung sangat sulit dibendung.


Kesimpulan

          Ada perbedaan mencolok antara mahasiswa aktif dan apatis ,dimana  dari perbedaan yang telah disampaikan di atas dapat kita tarik kesimpulan bahwa mahasiswa aktif lebih banyak mendapatkan manfaat sebagai mahasiswa terlebih sebagai agen of change, yang pada akhirnya harus terjun langsung di masyarakat.






Senin, 23 April 2012

judul karya : setetes harapan
media        : mix media (cat poster and pecil in canvas)
nama         : yunasman salam




gambar ini saya buat karena sekarang marak dengan bayi yang lahir diluar keadan ab-normal,yang seniman harapkan dari karya ini ,seniman berharap bayi-bayi  ini lebih mendapatkan perhatian dari masyarakat sehingga dapat membantu keluarga bayi tersebut....
lebih peduli terhadap sesama itu lebih baik.